"Melukis itu Menulis"

Thursday, January 08, 2009



Saya baru saja membaca buku "Melukis itu Menulis" oleh Bpk AD.Pirous, dan dibagian pengantar buku yang disampaikan oleh Bpk. Yasraf Amir Piliang dihalaman xi, menarik hati saya yaitu;

Apakah menulis itu 'melukis'? Apakah melukis itu 'menulis'? Apa itu lukisan? Apa itu tulisan? Apakah tulisan itu 'lukisan'? Apakah lukisan itu 'tulisan'? Apa itu penulis? Apa itu pelukis? Apakah penulis itu 'pelukis'? Apakah pelukis itu 'penulis'?... Bila melukis menggubah sebuah komposisi, apakah menulis juga menggubah komposisi? Apakah "komposisi lukisan" sama dengan "komposisi tulisan"? Bila menulis dilandasi oleh teori, apakah melukis juga dilandasi 'teori'? Apakah 'teori menulis' sama dengan 'teori melukis'? Bila menulis menghasilkan 'konsep'. Apakah melukis juga menghasilkan 'konsep'? Apakah 'konsep menulis' sama dengan 'konsep melukis'?

Tulisan diatas mengigatkan saya seniman Amerika keturunan Indian, Mr.Edgar Heap http://www.heapofbirds.com/hachivi_edgar_heap_of_birds.htm, yang pernah berpameran di Galeri Soemardja ITB dan mengadakan workshop dengan mahasiswa ITB, yang menarik dari workshop adalah karya yang dihasilkan oleh mahasiswa, secara visual tidak ada objek atau subjek yang digambar tetapi kata2 yang disusun dalam satu kertas putih menggunakan spidol hitam dan tidak ada warna. Disitu mahasiswa bebas untuk mengolah kata-kata tanpa walau kata tersebut tidak berkaitan.


Started Moving Again – Pagi-pagi Matahari Silau Sekali, Talk With Hands – Menggambar, Run A Check – Melarikan Diri, Wins Run Red – Gunung Meletus, Red Win Waves – Menemaniku Kesana, inilah sebagian dari ratusan teks yang menutupi dinding ruang pameran Galeri Soemardja, ITB. Karya yang dipamerkan merupakan kolaborasi antara ketiga belas mahasiswa seni rupa ITB dan Edgar Heap of Birds seorang seniman Amerika dan Profesor Universitas Oklahoma ini berlangsung mulai dari tanggal 12-19 Agustus 2005. Sebelum menampilkan gagasan tentang teks-teks, setiap mahasiswa selama seminggu diharuskan mengikuti workshop dan diskusi. Setiap mahasiswa diberikan 20 lembar kertas dimana setiap lembar kertas tersebut terdapat tiga kata dalam bahasa Inggris. Mahasiswa ditugaskan untuk membaca kembali kata-kata tersebut sesuai dengan pikiran dan pengalaman mereka masing-masing. Setelah itu mahasiswa menuliskan kembali dalam lembar kertas yang berbeda tanpa harus sesuai dengan makna aslinya. Mahasiwa bebas menginterpretasikan setiap teks dengan bebas.

Salah satu karya yang dihasilkan oleh mahasiswa ITB yaitu, Ismet Z. Arifin yang mendapatkan kata-kata tersebut membacanya dengan cara yang berbeda dan ditulis dengan bahasa Sunda yaitu ningali kompas, teu dahar tilu poe, haur koneng rada panjang, jalantah bahe na ubin, neundeun Al Qur’an di lemari.

Kedatangan Edgar ini bukan pertama kalinya ke ITB, tahun lalu beliau sudah pernah datang dan mempresentasikan hasil karyanya tentang seni publik di depan mahasiswa ITB. Edgar adalah seniman amerika keturunan Indian dan hal ini sangat mempengaruhi proses kreatifitas pembuatan karyanya. Ketertarikan Edgar untuk mengolah teks yang bermakna mencirikan Indian menjadi bahasa visual dapat dilihat dari perkembangan karyanya yang membela masyarakat Indian. Pada tahun 1990 Edgar membuat karya seni publik di Grain Belt, salah satu tempat bersejarah di Minneapolis. Karyanya terbuat dari alumunium ditulis dengan makna-makna teks simbolik yang mengingatkan peristiwa pada tahun 1862 dan 1865 yaitu pembantaian oleh masyarakat Amerika kulit putih yang diperintahkan oleh Presiden Abraham Lincoln dan Andrew Jackson yang didukung oleh masyarakat Minnesota.

Edgar tidak hanya sampai pada pengolahan teks sebagai peringatan dan menghargai suku Indian, tetapi juga mengkritik pemerintah Amerika yang hanya menggunakan dan memanfaatkan simbol-simbol masyarakat Indian untuk dipindahkan ke dalam bentuk maskot dan produk kapitalisme. Sedangkan masyarakat Indiannya sendiri tetap terpinggirkan dan dilupakan oleh pemerintah Amerika.

Karya-karya teks yang ditampilkan Edgar dalam pameran ini sangat kental dengan istilah dan simbol dari masyarakat Indian seperti kata eyes hold forth, the hig dip, for war chief, spread enter motion, sight upon center. Kolaborasi dengan mahasiswa seni rupa ITB merupakan salah satu dari eksperimen-eksperimennya untuk mencapai bentuk artistik teks yang berbeda. Edgar sangat senang mempermainkan kata-kata, objek teks merupakan salah satu ciri khas Edgar dalam menampilkan gagasannya.




You Might Also Like

2 comments

  1. waduh,,, kebanyakan gambar. Salam kenal.

    ReplyDelete
  2. kunjungi aq di http://putramartapura.blogspot.com/
    jangan lupa

    ReplyDelete

Popular Posts

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Subscribe